Selasa, 22 April 2014

ZUHUD: Salah satu kisah dalam "Bidadari bumi, 9 kisah wanita sholeha" karya ustadzah Halimah Alaydrus..





Pernahkan kau jumpa?
Diantara mereka yang
Terhanyut arus cinta fana
Ada dia yang tenggelam
Jatuh cinta pada muara

Sebagai upaya menambah materi pelajaran dari apa yang kudapat di Daruzzahro, aku mengambil les privat dari ustadzah Maryam, puteri Habib Ali Mahsyur, mufti Tarim saat ini. Beliau adalah seorang ustadzah yang aktif bergerak dalam bidang dakwah dan juga mengajar di Darul Faqih, sebuah madrasah khusus putri yang ada di tarim juga. Aku belajar memahami tentang hadits-hadits Rosulullah SAW dari beliau seminggu sekali.

Sore ini beliau mengupas hadits :

‘’Zuhudlah (hilangkanlah dari hatimu kecintaan) terhadap harta dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah (hilangkanlah dari hatimu keinginan) terhadap apa yang dimiliki orang lain niscaya engkau akan dicintai mereka.’’

Ustadzah Maryam kemudian menjelaskan padaku arti zuhud dan gambarannya dalam praktek kehidupan manusia. Seperti keteladanan Nabi Muhammad SAW yang lebih memilih mengganjal perutnya dengan batu karena menahan lapar dan rela tidur diatas tikar usang daripada selalu kenyang dan hidup dalam kenyamanan. Atau seperti nabi Isa AS yang sampai hari beliau belum diangkat ke langit tak pernah memiliki rumah sebagai tempat tinggal. Begitu juga para hamba-hamba pilihan Allah yang lebih memilih untuk meninggalkan kesenangan dunia demi meraih kebahagiaan akhirat.

Aku jadi tertarik dan bertanya :

‘’ustadzah, masih tersisakah dizaman sekarang ini orang yang bersikap zuhud, sementara godaan untuk mementingkan dunia sedemikian beratnya?’’

‘’tentu masih ada’’ jawab beliau.

‘’Di dunia ini masih akan selalu ada hamba-hamba pilihan Allah yang memahami untuk apa mereka diciptakan, mereka menyadari hakikat  dunia yang esok atau lusa akan mereka tinggalkan. Mereka berhasil meyakinkan diri bahwa tak ada yang akan mereka bawa ketika masuk kubur  nanti kecuali kain kafan, dan bahwacdunia yang tampak menyenangkan ini hanya akan menyisakan hisab yang panjang. Mereka sungguh orang-orang yang pandai , tak mau senang sesaat namun kemudian membawa petaka yang maha berat. Tak menginginkan kebahagiaan sebentar tetapi membawa penyesalan berkepanjangan.’’

Pernahkan kau sua ?
Diantara mereka yang gelap mata
Mendewakan harta
Ada dia yang menolaknya begitu saja,
Lebih tertarik pada yang kekal
Di alam sana

Sejenak beliau diam dan minum segelas air putih di hadapannya lalu beliau melanjutkan penjelasannya :

‘’pertanyaanmu tadi mengingatkan ku akan kejadian kemarin, ketika aku sedang berada di Madrasah Darul Faqih pada jam istirahat. Kala itu aku sedang berada diruang kantor  dengan beberapa orang guru, tiba-tiba seorang anak remaja memanggilku dan memintaku mendekat, aku lalu mengajaknya menepi disudut ruangan untuk berbicara dengannya.

‘’ustadzah, aku harap ustadzah berkenan menjadi saksi untuk ibuku.’’

Aku mendengarkannya lebih serius.

‘’saksi atas apa, nak?’’

‘’ibuku sepanjang hidupnya tak memiliki apapun kecuali 2 buah baju. Satu ia kenakan sementara yang lain ia cuci. Ia juga hanya memiliki 2 buah kerudung, mukena, sepasang sandal, sebuah sisir, cermin, piring, Alqur’an, tasbih, dan sejadah. Dia tak memegang satu senpun uang, tak memuliki perhiasan, rumah, barang, atau perabot apapun. Di masa tuanya beliau tinggal dengan kakak tertuaku. Apabila salah satu dari anaknya memberinya uang, dia akan menerimanya dengan senang hati  dan mendoakannya namun keesokan harinya uang tersebut sudah tidak lagi di tangannya. Dan ketika beberapa hari yang lalu seseorang memberinya hadiah selembar kain, beliau berkata ‘jika umurku sampai Ramadhan nanti, jahitkan kain ini untuk baju sholatku sebagai pengganti mukena yang lama. Namun jika tidak, tolong berikan kepada ‘si fulanah’ yang rumahnya disana, kulihat mukena yang dipakainya telah usang dan tak lagi layak dipakai.

Anak remaja dihadapanku menunduk, dia menyembunyikan air matanya yang perlahan  menetes sebelum akhirnya kemudian berkata :

‘’ustadzah’’ panggilnya lirih

‘’ibuku meninggal tiga hari yang lalu…kuharap ustadzah berkenan menjadi saksi bahwa beliau telah berhasil menjalani kehidupannya seperti yang diinginkannya. Karena setiap kali aku protes dengan caranya menolak harta dunia dia selalu saja berkata :

‘’Tahukah kau nak?...cita-citaku adalah termasuk dalam kelompok orang yang diceritakan Nabi Muhammad SAW bahwa saat proses hisab masih berlangsung, dan Shirotol mustaqim masih dibentangkan, ada sekelompok orang yang telah menanti Nabi Muhammad dipintu-pintu syurga, hingga malaikat bertanya ;

‘’siapakah kalian yang telah berada disini padahal proses hisab masih berlangsung dan belum selesai?’’

‘’Kami adalah sekelompok orang dari umat Nabi Muhammad SAW yang keluar dari dunia seperti kami masuk kedalamnya. Tak ada yang harus dihisab dari kami..’’ jawab mereka

Anakku…aku ingin keluar dari dunia ini tanpa membawa apapun kecuali sekedar yang aku perlukan untuk bertahan hidup sehingga tak harus ada proses hisab yang panjang menantiku di depan.’’

Begitu selalu jawab ibuku dan dia berhasil menjalani hidupnya tepat seperti yang dia mau. Aku becerita padamu agar kelak engkau berkenan menjadi saksi kebaikannya’’ kata remaja itu mengakhiri ceritanya..’’

Pernahkah kau kira?
Di antara mereka yang sibuk
Membangun istana dunia.
Ada dia yang lebih suka
Menata singgasana di surga

Aku takjub mendengar cerita Ustadzah Maryam dan kagum luar biasa pada wanita yang beliau ceritakan itu.

Betapa sederhana hidup sesungguhnya… ya sangat sederhana, andai kita tidak menganggap penting sesuatu yang sebenarnya memang tidaklah penting. Harta dunia yang karenanya banyak orang berlomba hingga mau berbuat apapun untuk meraihnya, pada akhirnya akan ditinggalkan begitu saja.

Hidup ini sederhana saja sebenarnya…Kita sendiriah yang suka membuat sesuatu menjadi lebih rumit. Cinta dunia sering kali mengelabui kita dari memahami makna hidup yang sesungguhnya.

Tarim 2000

Pernahkan kau sangka ?
Diantara mereka yang berkeliling
Di sejengkal tanah bumi
Ada dia yang terbang
Menembus jagad raya
Mencium Hajar Aswad
Dari tempat asalnya

Ya Allah…
Karuniai aku secuil cintanya
Biar kurasa kelezatan munajat dan doa

Ya Allah…
Beri aku sejumput zuhudnya
Agar aku tak rakus pada dunia

Ya Allah…
Beri aku setetes air matanya
Hingga cair gunungan dosa dalam dada

Selasa, 11 Maret 2014

"WAHAI" by Ustadzah Halimah Alaydrus #puisi favoritku...




Wahai......
Menemukanmu adalah semburat fajar
kala pekat malam kukira takan usai

Wahai 
Menemukanmu adalah guyuran hujan
kala kebun jiwa kurasa kering perlahan

 Maka, Wahai......
Kumohon jangan berpaling
sebab kupinta engkau jadi cahaya
Hingga tak sesat aku mengeja langkah
Tuk telusuri jalan gelap menuju-Nya
Atau kuharap engkau membentangkan sayap
Mengantar aku ke puncak surga
Kala ruhku merindu Sang Pencipta 

(puisi ini ku persembahkan untuk orang-orang yang tiap saat selalu menyeru kebaikan, orang-orang yang menjadi inspirasi tuk beramal sholeh, yang mengantarkan pada jalan kebenaran.... Teruntuk Rasulullah saw kekasih Allah juga semesta, shalafuna sholeh, oran-orang yg patut diteladani, shohibul puisi ini ustadzah Halimah Alaydrus, AYAH IBU tercinta khususnya, dan termasuk dirimu calon imamku)..

tak ada yg lebih indah yg kan jadi tujuan kita selain
 "ILAHAA ANTAL MAQSHUD, WARIDHOOKAL MATHLUUB"