Pernahkan kau
jumpa?
Diantara mereka
yang
Terhanyut arus
cinta fana
Ada dia yang
tenggelam
Jatuh cinta pada
muara
Sebagai upaya menambah materi
pelajaran dari apa yang kudapat di Daruzzahro, aku mengambil les privat dari
ustadzah Maryam, puteri Habib Ali Mahsyur, mufti Tarim saat ini. Beliau adalah
seorang ustadzah yang aktif bergerak dalam bidang dakwah dan juga mengajar di
Darul Faqih, sebuah madrasah khusus putri yang ada di tarim juga. Aku belajar
memahami tentang hadits-hadits Rosulullah SAW dari beliau seminggu sekali.
Sore ini beliau mengupas hadits :
‘’Zuhudlah (hilangkanlah dari
hatimu kecintaan) terhadap harta dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan
zuhudlah (hilangkanlah dari hatimu keinginan) terhadap apa yang dimiliki orang
lain niscaya engkau akan dicintai mereka.’’
Ustadzah Maryam kemudian
menjelaskan padaku arti zuhud dan gambarannya dalam praktek kehidupan manusia.
Seperti keteladanan Nabi Muhammad SAW yang lebih memilih mengganjal perutnya
dengan batu karena menahan lapar dan rela tidur diatas tikar usang daripada
selalu kenyang dan hidup dalam kenyamanan. Atau seperti nabi Isa AS yang sampai
hari beliau belum diangkat ke langit tak pernah memiliki rumah sebagai tempat
tinggal. Begitu juga para hamba-hamba pilihan Allah yang lebih memilih untuk
meninggalkan kesenangan dunia demi meraih kebahagiaan akhirat.
Aku jadi tertarik dan bertanya :
‘’ustadzah, masih tersisakah
dizaman sekarang ini orang yang bersikap zuhud, sementara godaan untuk
mementingkan dunia sedemikian beratnya?’’
‘’tentu masih ada’’ jawab beliau.
‘’Di dunia ini masih akan selalu
ada hamba-hamba pilihan Allah yang memahami untuk apa mereka diciptakan, mereka
menyadari hakikat dunia yang esok atau lusa akan mereka tinggalkan.
Mereka berhasil meyakinkan diri bahwa tak ada yang akan mereka bawa ketika
masuk kubur nanti kecuali kain kafan, dan bahwacdunia yang tampak
menyenangkan ini hanya akan menyisakan hisab yang panjang. Mereka sungguh
orang-orang yang pandai , tak mau senang sesaat namun kemudian membawa petaka
yang maha berat. Tak menginginkan kebahagiaan sebentar tetapi membawa
penyesalan berkepanjangan.’’
Pernahkan kau sua ?
Diantara mereka
yang gelap mata
Mendewakan harta
Ada dia yang
menolaknya begitu saja,
Lebih tertarik pada
yang kekal
Di alam sana
Sejenak beliau diam dan minum
segelas air putih di hadapannya lalu beliau melanjutkan penjelasannya :
‘’pertanyaanmu tadi mengingatkan
ku akan kejadian kemarin, ketika aku sedang berada di Madrasah Darul Faqih pada
jam istirahat. Kala itu aku sedang berada diruang kantor dengan beberapa
orang guru, tiba-tiba seorang anak remaja memanggilku dan memintaku mendekat,
aku lalu mengajaknya menepi disudut ruangan untuk berbicara dengannya.
‘’ustadzah, aku harap ustadzah
berkenan menjadi saksi untuk ibuku.’’
Aku mendengarkannya lebih serius.
‘’saksi atas apa, nak?’’
‘’ibuku sepanjang hidupnya tak
memiliki apapun kecuali 2 buah baju. Satu ia kenakan sementara yang lain ia
cuci. Ia juga hanya memiliki 2 buah kerudung, mukena, sepasang sandal, sebuah
sisir, cermin, piring, Alqur’an, tasbih, dan sejadah. Dia tak memegang satu
senpun uang, tak memuliki perhiasan, rumah, barang, atau perabot apapun. Di
masa tuanya beliau tinggal dengan kakak tertuaku. Apabila salah satu dari
anaknya memberinya uang, dia akan menerimanya dengan senang hati dan
mendoakannya namun keesokan harinya uang tersebut sudah tidak lagi di
tangannya. Dan ketika beberapa hari yang lalu seseorang memberinya hadiah
selembar kain, beliau berkata ‘jika umurku sampai Ramadhan nanti, jahitkan kain
ini untuk baju sholatku sebagai pengganti mukena yang lama. Namun jika tidak,
tolong berikan kepada ‘si fulanah’ yang rumahnya disana, kulihat mukena yang
dipakainya telah usang dan tak lagi layak dipakai.
Anak remaja dihadapanku menunduk,
dia menyembunyikan air matanya yang perlahan menetes sebelum akhirnya
kemudian berkata :
‘’ustadzah’’ panggilnya lirih
‘’ibuku meninggal tiga hari yang
lalu…kuharap ustadzah berkenan menjadi saksi bahwa beliau telah berhasil
menjalani kehidupannya seperti yang diinginkannya. Karena setiap kali aku
protes dengan caranya menolak harta dunia dia selalu saja berkata :
‘’Tahukah kau nak?...cita-citaku
adalah termasuk dalam kelompok orang yang diceritakan Nabi Muhammad SAW bahwa
saat proses hisab masih berlangsung, dan Shirotol mustaqim masih dibentangkan,
ada sekelompok orang yang telah menanti Nabi Muhammad dipintu-pintu syurga,
hingga malaikat bertanya ;
‘’siapakah kalian yang telah
berada disini padahal proses hisab masih berlangsung dan belum selesai?’’
‘’Kami adalah sekelompok orang
dari umat Nabi Muhammad SAW yang keluar dari dunia seperti kami masuk
kedalamnya. Tak ada yang harus dihisab dari kami..’’ jawab mereka
Anakku…aku ingin keluar dari
dunia ini tanpa membawa apapun kecuali sekedar yang aku perlukan untuk bertahan
hidup sehingga tak harus ada proses hisab yang panjang menantiku di depan.’’
Begitu selalu jawab ibuku dan dia
berhasil menjalani hidupnya tepat seperti yang dia mau. Aku becerita padamu
agar kelak engkau berkenan menjadi saksi kebaikannya’’ kata remaja itu
mengakhiri ceritanya..’’
Pernahkah kau kira?
Di antara mereka
yang sibuk
Membangun istana
dunia.
Ada dia yang lebih
suka
Menata singgasana
di surga
Aku takjub mendengar cerita
Ustadzah Maryam dan kagum luar biasa pada wanita yang beliau ceritakan itu.
Betapa sederhana hidup
sesungguhnya… ya sangat sederhana, andai kita tidak menganggap penting sesuatu
yang sebenarnya memang tidaklah penting. Harta dunia yang karenanya banyak
orang berlomba hingga mau berbuat apapun untuk meraihnya, pada akhirnya akan
ditinggalkan begitu saja.
Hidup ini sederhana saja
sebenarnya…Kita sendiriah yang suka membuat sesuatu menjadi lebih rumit. Cinta
dunia sering kali mengelabui kita dari memahami makna hidup yang sesungguhnya.
Tarim 2000
Pernahkan kau
sangka ?
Diantara mereka
yang berkeliling
Di sejengkal tanah
bumi
Ada dia yang
terbang
Menembus jagad raya
Mencium Hajar Aswad
Dari tempat asalnya
Ya Allah…
Karuniai aku secuil cintanya
Biar kurasa kelezatan munajat dan doa
Ya Allah…
Beri aku sejumput zuhudnya
Agar aku tak rakus pada dunia
Ya Allah…
Beri aku setetes air matanya
Hingga cair gunungan dosa dalam dada
