Rabu, 16 Oktober 2013

Sulis Cinta Rasul: My Pride Girl.........



Sulis CR, begitulah biasa ia dipanggil. Sosok gadis yang menjadi idolaku sejak kelas 4/5 SD ini begitu sangat berarti dalam kehidupanku. Ya itulah yang aku rasakan selama ini. Namanya mulai melejit setelah ia berduet dengan penyanyi Religi Haddad Alwi pada tahun 1999, waktu itu Sulis sendiri masih duduk di kelas 3 SD (Masih unyu-unyu yah)...
Di situlah awal aku jatuh hati padanya. Album Cinta Rasul 1 dengan singel utamanya "Ya Thoybah" saat itu sering ditayangkan di TV, dengan antusias aku pun tak mau ketinggalan untuk menontonnya tak lupa untuk menghafalkan LIRIK lagunya PADAHAL waktu itu aku sendiri masih kaku melafalkan lirik-lirik Arab.
Ya pokoe intinya aku suka.


Masih teringat jelas di memoriku, ketika  aku kelas lima SD, ayahku memberiku hadiah kaset tape Cinta Rasul. Sontak saja aku gembira menerima hadiah itu. Ya kaset pemberian dari ayahku itu adalah oleh-oleh dari beliau sepulang dari pelatihan di Surabaya, dan yang lebih menggembirakan lagi kaset itu dilengkapi dengan buku panduan yang berisi foto-foto Sulis, k’Haddad, dan Kru CR, lirik-lirik,  arti dan makna setiap lagu. Komplit kan????aku tak perlu kaku-kaku lagi dengan lirik-lirik berbahasa Arab.
Aku memutar kaset CR dirumah setiap saat . Semua menyukainya. Ayah,Ibu, Papa tua, mama tua, tante-tante, tetangga, juga teman-temanku. Hmmppp Akhirnya aku bisa hafal lagu Ya Thoybah. Bahkan sewaktu sekolah SD ku mengadakan  kemping persahabatan dengan salah satu SD di kecamatan tempat tinggalku, aku membawakan lagu Ya Thoybah sebagai atraksi di malam api unggun. (hehehe ) saking sukanya waktu itu. sampe sekarang tetap dong masih sangat suka lagu Ya Thoybah.


Ada satu hal yang membuatku merasa bahwa Jatuh hati pada sULis dan lagu-lagu Cinta Rasul merupakan suatu yang berarti dan penting bagiku, bahkan untuk muslim pada umumnya, apalagi kalau bukan sampainya kita pada “CINTA RASUL” secara nyata. Bukan hanya sekedar mendengar lagu kemudian tak mengindahkannya. Maka Album Cinta Rasul dengan Slogan utamanya “CINTA ALLAH CINTA RASUL CINTA SESAMA”, dapat memberikan energi postif bagi kita, mengenalkan dan mengantar kita pada kecintaan kepada Rasulullah yang akan bermuara pada Cinta Hakiki Cinta Pada Allah.

Tak jarang, air mataku menetes ketika mendengar Sulis melantunkan shalawat dengan suaranya yang merdu penuh penghayatan. Sulis mampu membuat pendengarnya mengeluarkan tangisan rindu pada yang dituju, dialah baginda nabi Muhammad Saw. Semoga bukan hanya terhenti ketika mendengar Sulis saja, tetapi Kerinduan dan kecintaan kepada Beliau saw tetap terukir indah di hati aMIIN. Sadarku berkata Sulis adalah salah satu wasilah yang mampu melatih kita tentang semua itu.
Sulis sering menangis haru ketika melantunkan shalawat,LAGU Ibu dan lagu-lagu lainnya karna Sulis menghayati setiap maknanyanya. Sulis adalah sosok teladan masa kini menurutku. Sulis konsisten dengan pilihan jendre musik religinya sejak kecil, berhijab dengan santun dan anggunnya, cinta dan mengasihi anak-anak, hormat pada orang tua. Itulah sebabnya Sulis dicintai oleh semua kalangan, dari anak kecil sampai orang dewasa.

Rasa-rasanya gak akan ada habisnya, bercerita tentang Sulis...
Aku bangga padanya. Sangat bangga. Sejak kecil aku jatuh hati pada Sulis, menyukai semua tentang dirinya. Keramahannya, keanggunannya, kesederhanaannya, kecantikan paras dan budi pekertinya. Sulis Cinta Rasul Semoga Allah slalu menjagamu. Amiin..
Sejak kecil aku slalu slalu berharap bisa bertemu langsung dengannya. Namun kesempatan itu belum kunjung tiba dalam rentang waktu sejak aku SD-Juli 2012. Saking rindu ingin bertemu dengannya, kerap kali aku memimpikannya. Bahkan dalam mimpiku Sulis datang ke rumah (rumah mama tuaku kelurahan Kabaonga Besar, Kec. Banawa Kab. Donggala Sulawesi Tengah, hehe). Walau dalam mimpi tapi aku sangat senang.
Sulis sendiri sebenarnya sudah pernah perform di Sulawesi Tengah (provinsiku tercinta), tepatnya di Palu, di Poso dan di Morowali. Tapi sayangnya pada saat itu aku tidak bisa melihatnya langsung. Waktu Sulis tampil di Palu, saat itu aku sendiri kudet=kurang update sehingga terlewatkan, aku tahunya dari tante di lokasi KKN ku saat silaturahmi lebaran di sana, dan hmmppppp seketika itu juga langsung kecewa bin sedih gak tau info tentang itu. Waktu Sulis di Poso, bertepatan aku ikut MTQ di luwuk jadi gak bisa ketemu jg, tapi alhamdulillah waktu itu bisa smsan dengan Pak Haydar Yahya (manajer Cinta Rasul). Nomor HP Pak Haydar aku dapat dari salah satu teman CRF “Cinta Rasul Family” (sebutan untuk penggemar Sulis Cinta Rasul).
(ini Dia Pak Haydar)

 Tentu saja aku langsung perkenalkan diriku sbg salah satu fans Sulis yang ada di Palu. Senang bisa kontak langsung dengan Pak Haydar. Alhamdulillah lagi, pada saat yang bersamaan, tiba-tiba aku di telpon temanku dari kalangan police (hehe)....Dan..........................ternyata pada saat itu temanku yang berinisial ICM (alias Icul Maricul) sedang bertugas bagian pengamanan di acara Sulis berada. Dan............senangnya aku, karna saat itu juga aku bisa mendengar suara langsung dari Sulis menyanyikan Ya Thoybah yang telah di aransement dalam album The Best of Sulis 2009. Ya si ICM sengaja menelpon untuk memperdengarkan suara Sulis.///Yaahhh senang banget walau Cuma via telpon.



Singkat kata singkat cerita..........................
30 Juli 2012 hari bersejarah bagiku..
Hari yang menjadi jawaban dari doa-doa dan harapnku...
30 Juli malam, akhirnya kesempatan itu datang...
Setahun yang lalu akhirnya aku bisa l bertemu langsng dengan Sulis..
Bukan hanya mendengar suaranya via telpon ...
tapi kali ini..
Aku berada dekat dengannya, merangkulnya, cipika-cipiki...
Bahkan ada satu hal lagi lebih dari yang aku harapkan, Malam itu aku ikut berduet dengan Sulis di atas panggung membawakan lagu Ya Thoybah. Subhanallah....
Pertemuanku dengan Sulis bukan di Palu atau pun di daerah Sulawesi tengah lainnya. Tapi aku bertemu dengannya di Purworejo Jawa Tengah. Sungguh sesuatu yang tak pernah terbayangkan olehku. Masih teringat jelas juga bagaimana caraku sehingga sampai di sana. Ceritanya pun cukup panjang. Cerita tentang energi positif yang aku sebut di atas.
Saat itu Aku langsung teringat hadits Rasulullah “ Almar’u ma’a man ‘ahab” seseorang bersama yang ia cintai.....Semoga Sulis slalu menjadi wasilah Cinta Allah Cinta Rasul Cinta Sesama... Amiin.....
(Duet Ya Thoybah)

Aku sendiri hanya salah satu dari sekian banyak penggemar Sulis se Nusantara... penggemarnya (teman-teman CRF, Red) yang benar-benar ngefans,  terlihat dengan koleksi kaset-kaset dan aksesoris CR lainnya. Aku melihatnya langsung, salah satunya dia adalah k’Safaha Nurul CRF (temanku pada saat ketemu sulis, baru kali itu juga bertemu stelah janjian) dengan koleksinya:  
  1.   Cinta Rasul 1 (1999)
  1. Cinta Rasul 2 (2000)
  2. Seribu Salam Bagi Rasul (2001)
  3. Cinta Rasul 3 (2001)
  4. Love For The Messenger With Orchestra (2002)
  5. Cinta Rasul 4 (2002)
  6. Cinta Rasul bersama Hetty Koes Endang, Sundari Soekotjo, Natasya, & Didi Kempot (2003)
  7. Cinta Rasul 5 (2003)
  8. Cinta Rasul 6 (2004)
  9. Sulis With Orchestra (2005)
  10. Cinta Rasul 7 (2006)
  11. Cinta Rasul Pop (2007)'
  12. Ya Allah (2008)'
  13. The Best Of Sulis (2009)'
  14. Sulis Live In Concert (2010)
  15. Dzikir Anak (2011).
Somoga Sulis tetap menjadi inspirasi generasi muda Indonesia.
Sulis yang tetap Cinta Allah Cinta Rasul Cinta Sesama...
Love U.....
Proud of U..
Dan kita pun semoga berada dalam ranah Cinta Allah Cinta Rasul Cinta Sesama...
Allah selalu memberi kita sesuatu indah pada waktunya....
Believe it!!..


(Foto bareng Sulis di Hotel)


Bersama k’Safaha Nurul (mba Ulin)



Sulis yang Anggun bersuara merdu...



Selasa, 15 Oktober 2013

PERILAKU AGRESIF Vs PERILAKU PROSOSIAL SISWA SD



Sudah menjadi hal yang biasa ketika kita mendengar guru, orang tua dan orang-orang yang sering kita jumpai mengeluhkan perilaku agresif anak atau bahkan kita sendiri yang mengeluhkannya. Bahkan tak jarang karena perilaku agresif yang dirasakan mengganggu, guru dan orang tua pun tak segan untuk bersikap keras pada anak, misalnya dengan mencubit dan lain sebagainya.
 Seyogyanya, apabila significant others [1] memahami tugas-tugas perkembangan anak usia sekolah, bagaimana ciri khasnya, dan adakah kebiasaan buruk seiring dengan perkembangan anak tersebut, tentunya tidak akan sampai bertindak demikian dalam merespon perilaku agresif anak, sehingga yang ada ialah berupaya bagaimana mencagah perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan tugas-tugas pekembangan mereka.
Perlu diketahui, setelah anak mencapai usia enam atau tujuh tahunan perkembangan jasmani dan rohaninya mulai sempurna. Anak keluar dari lingkungan keluarga dan memasuki lingkungan sekolah. Anak juga ingin mengetahui segala sesuatu di sekitarnya sebagai tambahan pengalamannya. Semua pengalaman baru itu akan membantu dan mempengaruhi proses perkembangan berpikirnya. Adapun syarat-syarat anak usia enam atau tujuh tahun dianggap matang untuk belajar di sekolah dasar menurut Zulkifli adalah kondisi jasmani cukup sehat dan kuat untuk  melakukan tugas di sekolah, ada keinginan belajar, fantasi tidak leluasa dan liar dan perkembangan perasaan sosial telah memadai. [2]
Menurut Havighurtz, kesadaran sosial pada usia SD berkembang dengan pesat. Menjadi pribadi sosial merupakan salah satu tugas perkembangan yang utama dalam periode ini[3]. Agar dapat diterima oleh kelompok sosialnya, anak-anak harus mampu melakukan tugas perkembangannya. namun bagi sebagian anak tugas-tugas perkembangan yang idealnya dimiliki anak usia sekolah SD belum sepenuhnya bisa terintegrasi dalam diri mereka.
Perilaku agresif merupakan salah satu perilaku yang membuat keadaan sekolah menjadi tidak nyaman. Bagaimana tidak, perilaku agresif siswa sudah menjadi masalah umum. Lihat saja kasus-kasus yang melibatkan siswa semakin marak terjadi di lingkungan sekolah bahkan sampai ke lingkup yang lebih luas lagi seperti perkelahian, tawuran, kerusuhan yang menunjukan betapa kompleksnya perilaku agresif siswa.
Perilaku agresif yang saya maksudkan di sini adalah bagian dari kebiasaan buruk siswa yaitu suatu bentuk aktifitas yang bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut orang pada umumnya. Dalam artian perbuatan atau sikap seorang murid yang berulang kali dilakukan dengan sengaja dan sifatnya bertentangan dengan perbuatan atau sikap sebagaimana diharapkan orang lain untuknya.[4]
Bagi anak usia SD perilaku agresif yang sering ditunjukan adalah sering mengejek, suka bertengkar, memilih berkelahi untuk menyelesaikan masalah,tidak mempedulikan hak dan harapan orang lain, menghina, menyerang dan mengganggu temannya, bahkan pada gurunya jika ada kesempatan untuk melakukan perbuatan tersebut. Hal ini akan menjadi masalah serius yang membutuhkan penyelesaian apabila perbuatan itu sering kali dilkukan secara sengaja.
Pada Umumnya perilaku agresif anak terjadi sebagai pelampiasan dorongan emosi yang dialaminya. Akan tetapi tak jarang perilaku itu dapat muncul sekedar sebagai suatu sinyal kebutuhan akan perhatian orang tua atau untuk mendapatkan pengakuan dari sesama.[5]
So, What should we do??
Ya, bagi orang tua, guru dan semua pemerhati tumbuh kembang anak seyogyanya mengenali  tugas-tugas perkembangan anak. Ada banyak referensi yang bisa diakses sehingga pihak-pihak yang terkait akan mengetahui, memahami dan menerima pribadi anak tidak serta merta menjauhi bahkan berkata-kata dan berbuat kasar terhadap mereka.
Dalam menyikapi situasi seperti ini, melatih perilaku prososial pada anak sejak dini diharapkan dapat menjadi salah satu upaya untuk mencegah perilaku agresif yang menjadi-jadi, yang seringkali meresahkan.
Perilaku prososial yang dimaksud adalah perilaku yang menyokong kesejahteraan orang lain, perilaku tersebut mengandung nilai-nilai kebaikan, dan nilai-nilai tersebut memberikan konsekuensi positif  bagi si penerima, baik itu dalam bentuk materi, fisik maupun psikologis.Sehingga perilaku prososial lebih berkaitan dengan dengan perasaan puas, bahagia dari seseorang apabila dapat menolong orang lain dan membantu meringankan penderitaan orang lain.
Perilaku Prososial mencakup[6]                                       
1.  SHARING (Berbagi): melatih anak sejak dini untuk saling berbagi.
Dalam hal ini, anak dibiasakan untuk berbagi apapun yang mereka rasakan, mengkomunikasikan pendapat mereka serta apa yang mereka inginkan.
2.  COOPERATIVE (Kerja sama): melatih kerja sama.
Melatih kerja sama anak bisa dilakukan di sekolah, dalam keluarga dan di masyarakat. Di sekolah dengan membentuk small group dalam proses pembelajaran agar tecipta suasana PAIKEM, di rumahpun dapat dilakukan dengan games antara semama anggota keluarga yang melibatkan ayah, ibu, kakak adik dan anggota keluarga lainnya. Di masyarakat anak di ajar untuk saling bertegur sapa saat bertemu.
3.  DONATING (Menyumbang).
Melibatkan anak dalam kegiatan sosial sangat bermanfaat untuk melatih kesadaran sosial mereka. Sumbangan dalam hal ini pun tidak terbatas pada sumbangan materi untuk mereka yang membutuhkan uluran tangan kita, namun sumbangan non materi pun sangat besar pengaruhnya untuk dilatih kepada anak, misalnya sumbangan pemikiran dengan mengajar anak untuk memberikan ide-ide positif dalam situasi dan kondisi tertentu.
4.  HELPING (Menolong)
Membiasakan anak senang menolong akan berdampak pada terbentuknya sikap simpati dan empati terhadap apa yang dialami oleh orang lain. Dengan empati tersebut kecil kemungkinan anak akan melampiaskan perilaku agresifnya kepada orang lain ataupun benda-benda di sekitarnya.
5.  HONISTY (Kejujuran)
Jujur terhadap diri sendiri dan kepada orang lain. Maka peran ibu sebagai kiblat model sang anak sangat memberikan pengaruh yang cukup besar. Sejak kecil dekapan dan kasih sayang ibu telah melekat dalam diri anak, yang akan terekam dalam memori sepanjang hidupnya. Perilaku seorang ibu, (atau pun significant other lainnya) akan dijadikan anak sebagai teladan. Kejujuran yang ditunjukan dan dicontohkan oleh seorang ibu kepada anak serta memberikan pemahaman padanya, akan membekas seiring dengan tumbuh kembangnya.
6.  GENEROSITY (Kedermawanan)
Dalam hal ini konsep SHADAQAH (dalam arti luas) tepat untuk diajarkan kepada anak. Bagaimana mereka bersimpati dan berempati sejak dini terhadap sesama. Learning by doing yang diajarkan, misalnya membawanya ke masjid kemudian mengisi kotak amal, sembari mengajaknya berkeliling kemudian memberikan sedekah kepada orang yang layak menerimanya, melibatkan anak dalam membantu menyediakan ta’jilan berbuka puasa baik di dalam maupun luar rumah itu sudah merupakan bagian dari melatih kedermawanannya. Tentunya semua dibarengi dengan pemberian pemahaman pada anak untuk melakukan segala sesuatu dengan ikhlas atau suka rela.

Pada akhirnya, melatih perilaku prososial bagi anak sejak dini menurut saya bisa dijadikan sebagai salah satu upaya untuk mencegah perilaku agresif anak.
Mari kita renungkan bersama betapa Pola asuh dari orang tua sangat berpengaruh pada perilaku anak. Di tangan seseorang yang memahami, perilaku agresif bisa diarahkan menjadi perilaku sosial. Bahkan sejak dini perilaku agresif yang merugikan diri sendiri dan orang lain dapat dicegah.
Ayah, bunda, dan kita yang akan menjadi calon ayah bunda!!!
Anak adalah mutiara terindah anugrah dari-Nya...
Anak adalah bintang yang selalu dinantikan kilauannya..
Berikan yang tebaik agar tak sirna keindahannya dan tak redup kilauannya..
Kelak karena keindahannya dan kilauannya itu..
Senyum bangga ayah bunda akan slalu merekah..
Tak usang oleh waktu..
Walau raga telah berlalu..
DPL

 






[1] Istilah yang diperkenalkan oleh H S.Sullivan: individu yang sangat penting dan memiliki pengaruh besar bagi perasaan, pengembangan norma sosial, nilai dan citra diri.
[2] Sigit Muryono, Empati, Penalaran Moral dan Pola Asuh: Telaah Bimbingan dan Konseling (Yogyakarta: Gala Ilmu Semesta, 2009), hlm.34
[3] Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak “dengan judul asli Child Development” (Jakarta:Erlangga, 1997), hlm. 264
[4] Mulyadi, Diagnosis Kesulitan Belajar (Yogyakarta: Nuha Litera, 2010), hlm. 110
[5] Tim Pustaka Familia, Menyikapai Perilaku Afresif Anak (Yogyakarta: Kanisius, 2006), hlm.9
[6] Sigiti Muryono, Empati, Penalaran Moral dan Pola Asuh: Telaah Bimbingan dan Konseling, hlm.27