Sudah menjadi hal yang
biasa ketika kita mendengar guru, orang tua dan orang-orang yang sering kita
jumpai mengeluhkan perilaku agresif anak atau bahkan kita sendiri yang
mengeluhkannya. Bahkan tak jarang karena perilaku agresif yang dirasakan
mengganggu, guru dan orang tua pun tak segan untuk bersikap keras pada anak,
misalnya dengan mencubit dan lain sebagainya.
Seyogyanya, apabila significant others [1]
memahami tugas-tugas perkembangan anak usia sekolah, bagaimana ciri khasnya, dan
adakah kebiasaan buruk seiring dengan perkembangan anak tersebut, tentunya
tidak akan sampai bertindak demikian dalam merespon perilaku agresif anak,
sehingga yang ada ialah berupaya bagaimana mencagah perilaku-perilaku yang
tidak sesuai dengan tugas-tugas pekembangan mereka.
Perlu
diketahui, setelah anak mencapai usia enam atau tujuh tahunan perkembangan
jasmani dan rohaninya mulai sempurna. Anak keluar dari lingkungan keluarga dan
memasuki lingkungan sekolah. Anak juga ingin mengetahui segala sesuatu di
sekitarnya sebagai tambahan pengalamannya. Semua pengalaman baru itu akan
membantu dan mempengaruhi proses perkembangan berpikirnya. Adapun syarat-syarat
anak usia enam atau tujuh tahun dianggap matang untuk belajar di sekolah dasar
menurut Zulkifli adalah kondisi jasmani cukup sehat dan kuat untuk melakukan tugas di sekolah, ada keinginan
belajar, fantasi tidak leluasa dan liar dan perkembangan perasaan sosial telah
memadai. [2]
Menurut
Havighurtz, kesadaran sosial pada usia SD berkembang dengan pesat. Menjadi
pribadi sosial merupakan salah satu tugas perkembangan yang utama dalam periode
ini[3]. Agar dapat diterima oleh
kelompok sosialnya, anak-anak harus mampu melakukan tugas perkembangannya. namun
bagi sebagian anak tugas-tugas perkembangan yang idealnya dimiliki anak usia
sekolah SD belum sepenuhnya bisa terintegrasi dalam diri mereka.
Perilaku
agresif merupakan salah satu perilaku yang membuat keadaan sekolah menjadi
tidak nyaman. Bagaimana tidak, perilaku agresif siswa sudah menjadi masalah
umum. Lihat saja kasus-kasus yang melibatkan siswa semakin marak terjadi di
lingkungan sekolah bahkan sampai ke lingkup yang lebih luas lagi seperti
perkelahian, tawuran, kerusuhan yang menunjukan betapa kompleksnya perilaku
agresif siswa.
Perilaku
agresif yang saya maksudkan di sini adalah bagian dari kebiasaan buruk siswa
yaitu suatu bentuk aktifitas yang bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut
orang pada umumnya. Dalam artian perbuatan atau sikap seorang murid yang
berulang kali dilakukan dengan sengaja dan sifatnya bertentangan dengan
perbuatan atau sikap sebagaimana diharapkan orang lain untuknya.[4]
Bagi
anak usia SD perilaku agresif yang sering ditunjukan adalah sering mengejek, suka bertengkar, memilih berkelahi untuk
menyelesaikan masalah,tidak mempedulikan hak dan harapan orang lain,
menghina, menyerang dan mengganggu temannya, bahkan pada gurunya jika ada
kesempatan untuk melakukan perbuatan tersebut. Hal ini akan menjadi masalah serius
yang membutuhkan penyelesaian apabila perbuatan itu sering kali dilkukan secara
sengaja.
Pada
Umumnya perilaku agresif anak terjadi sebagai pelampiasan dorongan emosi yang
dialaminya. Akan tetapi tak jarang perilaku itu dapat muncul sekedar sebagai
suatu sinyal kebutuhan akan perhatian orang tua atau untuk mendapatkan
pengakuan dari sesama.[5]
So, What should we do??
Ya, bagi
orang tua, guru dan semua pemerhati tumbuh kembang anak seyogyanya
mengenali tugas-tugas perkembangan anak.
Ada banyak referensi yang bisa diakses sehingga pihak-pihak yang terkait akan
mengetahui, memahami dan menerima pribadi anak tidak serta merta menjauhi
bahkan berkata-kata dan berbuat kasar terhadap mereka.
Dalam menyikapi
situasi seperti ini, melatih perilaku prososial pada anak sejak dini diharapkan
dapat menjadi salah satu upaya untuk
mencegah perilaku agresif yang menjadi-jadi, yang seringkali meresahkan.
Perilaku prososial yang
dimaksud adalah perilaku yang menyokong kesejahteraan orang lain, perilaku
tersebut mengandung nilai-nilai kebaikan, dan nilai-nilai tersebut memberikan
konsekuensi positif bagi si penerima,
baik itu dalam bentuk materi, fisik maupun psikologis.Sehingga perilaku
prososial lebih berkaitan dengan dengan perasaan puas, bahagia dari seseorang
apabila dapat menolong orang lain dan membantu meringankan penderitaan orang
lain.
Perilaku
Prososial mencakup[6]
1. SHARING (Berbagi): melatih anak sejak dini untuk saling berbagi.
Dalam hal ini, anak dibiasakan untuk
berbagi apapun yang mereka rasakan, mengkomunikasikan pendapat mereka serta apa
yang mereka inginkan.
2. COOPERATIVE (Kerja sama): melatih kerja sama.
Melatih kerja sama anak bisa dilakukan
di sekolah, dalam keluarga dan di masyarakat. Di sekolah dengan membentuk small group dalam proses pembelajaran
agar tecipta suasana PAIKEM, di rumahpun dapat dilakukan dengan games antara
semama anggota keluarga yang melibatkan ayah, ibu, kakak adik dan anggota
keluarga lainnya. Di masyarakat anak di ajar untuk saling bertegur sapa saat
bertemu.
3. DONATING (Menyumbang).
Melibatkan anak dalam kegiatan sosial
sangat bermanfaat untuk melatih kesadaran sosial mereka. Sumbangan dalam hal
ini pun tidak terbatas pada sumbangan materi untuk mereka yang membutuhkan
uluran tangan kita, namun sumbangan non materi pun sangat besar pengaruhnya
untuk dilatih kepada anak, misalnya sumbangan pemikiran dengan mengajar anak
untuk memberikan ide-ide positif dalam situasi dan kondisi tertentu.
4. HELPING (Menolong)
Membiasakan anak senang menolong akan
berdampak pada terbentuknya sikap simpati dan empati terhadap apa yang dialami
oleh orang lain. Dengan empati tersebut kecil kemungkinan anak akan melampiaskan
perilaku agresifnya kepada orang lain ataupun benda-benda di sekitarnya.
5. HONISTY (Kejujuran)
Jujur terhadap diri sendiri dan kepada
orang lain. Maka peran ibu sebagai kiblat model sang anak sangat memberikan
pengaruh yang cukup besar. Sejak kecil dekapan dan kasih sayang ibu telah melekat
dalam diri anak, yang akan terekam dalam memori sepanjang hidupnya. Perilaku
seorang ibu, (atau pun significant other
lainnya) akan dijadikan anak sebagai teladan. Kejujuran yang ditunjukan dan
dicontohkan oleh seorang ibu kepada anak serta memberikan pemahaman padanya,
akan membekas seiring dengan tumbuh kembangnya.
6. GENEROSITY (Kedermawanan)
Dalam hal ini konsep SHADAQAH (dalam arti luas) tepat untuk
diajarkan kepada anak. Bagaimana mereka bersimpati dan berempati sejak dini
terhadap sesama. Learning by doing
yang diajarkan, misalnya membawanya ke masjid kemudian mengisi kotak amal, sembari
mengajaknya berkeliling kemudian memberikan sedekah kepada orang yang layak
menerimanya, melibatkan anak dalam membantu menyediakan ta’jilan berbuka puasa
baik di dalam maupun luar rumah itu sudah merupakan bagian dari melatih
kedermawanannya. Tentunya semua dibarengi dengan pemberian pemahaman pada anak
untuk melakukan segala sesuatu dengan ikhlas atau suka rela.
Pada
akhirnya,
melatih perilaku prososial bagi anak sejak dini menurut saya bisa dijadikan
sebagai salah satu upaya untuk mencegah perilaku agresif anak.
Mari kita
renungkan bersama betapa Pola asuh dari orang tua sangat
berpengaruh pada perilaku anak. Di
tangan seseorang yang memahami, perilaku agresif bisa diarahkan menjadi
perilaku sosial. Bahkan sejak dini perilaku agresif yang merugikan diri sendiri
dan orang lain dapat dicegah.
|
Ayah,
bunda, dan kita yang akan menjadi calon ayah bunda!!!
Anak adalah mutiara terindah anugrah
dari-Nya...
Anak adalah bintang yang selalu
dinantikan kilauannya..
Berikan yang tebaik agar tak sirna
keindahannya dan tak redup kilauannya..
Kelak karena keindahannya dan
kilauannya itu..
Senyum bangga ayah bunda akan slalu
merekah..
Tak usang oleh waktu..
Walau raga telah berlalu..
DPL
|
[1] Istilah yang diperkenalkan oleh
H S.Sullivan: individu yang sangat penting dan memiliki pengaruh besar bagi
perasaan, pengembangan norma sosial, nilai dan citra diri.
[2]
Sigit Muryono, Empati, Penalaran Moral dan Pola Asuh:
Telaah Bimbingan dan Konseling (Yogyakarta: Gala Ilmu Semesta, 2009),
hlm.34
[3] Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak “dengan judul asli Child
Development” (Jakarta:Erlangga, 1997), hlm. 264
[5]
Tim Pustaka Familia, Menyikapai Perilaku Afresif Anak
(Yogyakarta: Kanisius, 2006), hlm.9
Tidak ada komentar:
Posting Komentar