Selasa, 15 Oktober 2013

PERILAKU AGRESIF Vs PERILAKU PROSOSIAL SISWA SD



Sudah menjadi hal yang biasa ketika kita mendengar guru, orang tua dan orang-orang yang sering kita jumpai mengeluhkan perilaku agresif anak atau bahkan kita sendiri yang mengeluhkannya. Bahkan tak jarang karena perilaku agresif yang dirasakan mengganggu, guru dan orang tua pun tak segan untuk bersikap keras pada anak, misalnya dengan mencubit dan lain sebagainya.
 Seyogyanya, apabila significant others [1] memahami tugas-tugas perkembangan anak usia sekolah, bagaimana ciri khasnya, dan adakah kebiasaan buruk seiring dengan perkembangan anak tersebut, tentunya tidak akan sampai bertindak demikian dalam merespon perilaku agresif anak, sehingga yang ada ialah berupaya bagaimana mencagah perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan tugas-tugas pekembangan mereka.
Perlu diketahui, setelah anak mencapai usia enam atau tujuh tahunan perkembangan jasmani dan rohaninya mulai sempurna. Anak keluar dari lingkungan keluarga dan memasuki lingkungan sekolah. Anak juga ingin mengetahui segala sesuatu di sekitarnya sebagai tambahan pengalamannya. Semua pengalaman baru itu akan membantu dan mempengaruhi proses perkembangan berpikirnya. Adapun syarat-syarat anak usia enam atau tujuh tahun dianggap matang untuk belajar di sekolah dasar menurut Zulkifli adalah kondisi jasmani cukup sehat dan kuat untuk  melakukan tugas di sekolah, ada keinginan belajar, fantasi tidak leluasa dan liar dan perkembangan perasaan sosial telah memadai. [2]
Menurut Havighurtz, kesadaran sosial pada usia SD berkembang dengan pesat. Menjadi pribadi sosial merupakan salah satu tugas perkembangan yang utama dalam periode ini[3]. Agar dapat diterima oleh kelompok sosialnya, anak-anak harus mampu melakukan tugas perkembangannya. namun bagi sebagian anak tugas-tugas perkembangan yang idealnya dimiliki anak usia sekolah SD belum sepenuhnya bisa terintegrasi dalam diri mereka.
Perilaku agresif merupakan salah satu perilaku yang membuat keadaan sekolah menjadi tidak nyaman. Bagaimana tidak, perilaku agresif siswa sudah menjadi masalah umum. Lihat saja kasus-kasus yang melibatkan siswa semakin marak terjadi di lingkungan sekolah bahkan sampai ke lingkup yang lebih luas lagi seperti perkelahian, tawuran, kerusuhan yang menunjukan betapa kompleksnya perilaku agresif siswa.
Perilaku agresif yang saya maksudkan di sini adalah bagian dari kebiasaan buruk siswa yaitu suatu bentuk aktifitas yang bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut orang pada umumnya. Dalam artian perbuatan atau sikap seorang murid yang berulang kali dilakukan dengan sengaja dan sifatnya bertentangan dengan perbuatan atau sikap sebagaimana diharapkan orang lain untuknya.[4]
Bagi anak usia SD perilaku agresif yang sering ditunjukan adalah sering mengejek, suka bertengkar, memilih berkelahi untuk menyelesaikan masalah,tidak mempedulikan hak dan harapan orang lain, menghina, menyerang dan mengganggu temannya, bahkan pada gurunya jika ada kesempatan untuk melakukan perbuatan tersebut. Hal ini akan menjadi masalah serius yang membutuhkan penyelesaian apabila perbuatan itu sering kali dilkukan secara sengaja.
Pada Umumnya perilaku agresif anak terjadi sebagai pelampiasan dorongan emosi yang dialaminya. Akan tetapi tak jarang perilaku itu dapat muncul sekedar sebagai suatu sinyal kebutuhan akan perhatian orang tua atau untuk mendapatkan pengakuan dari sesama.[5]
So, What should we do??
Ya, bagi orang tua, guru dan semua pemerhati tumbuh kembang anak seyogyanya mengenali  tugas-tugas perkembangan anak. Ada banyak referensi yang bisa diakses sehingga pihak-pihak yang terkait akan mengetahui, memahami dan menerima pribadi anak tidak serta merta menjauhi bahkan berkata-kata dan berbuat kasar terhadap mereka.
Dalam menyikapi situasi seperti ini, melatih perilaku prososial pada anak sejak dini diharapkan dapat menjadi salah satu upaya untuk mencegah perilaku agresif yang menjadi-jadi, yang seringkali meresahkan.
Perilaku prososial yang dimaksud adalah perilaku yang menyokong kesejahteraan orang lain, perilaku tersebut mengandung nilai-nilai kebaikan, dan nilai-nilai tersebut memberikan konsekuensi positif  bagi si penerima, baik itu dalam bentuk materi, fisik maupun psikologis.Sehingga perilaku prososial lebih berkaitan dengan dengan perasaan puas, bahagia dari seseorang apabila dapat menolong orang lain dan membantu meringankan penderitaan orang lain.
Perilaku Prososial mencakup[6]                                       
1.  SHARING (Berbagi): melatih anak sejak dini untuk saling berbagi.
Dalam hal ini, anak dibiasakan untuk berbagi apapun yang mereka rasakan, mengkomunikasikan pendapat mereka serta apa yang mereka inginkan.
2.  COOPERATIVE (Kerja sama): melatih kerja sama.
Melatih kerja sama anak bisa dilakukan di sekolah, dalam keluarga dan di masyarakat. Di sekolah dengan membentuk small group dalam proses pembelajaran agar tecipta suasana PAIKEM, di rumahpun dapat dilakukan dengan games antara semama anggota keluarga yang melibatkan ayah, ibu, kakak adik dan anggota keluarga lainnya. Di masyarakat anak di ajar untuk saling bertegur sapa saat bertemu.
3.  DONATING (Menyumbang).
Melibatkan anak dalam kegiatan sosial sangat bermanfaat untuk melatih kesadaran sosial mereka. Sumbangan dalam hal ini pun tidak terbatas pada sumbangan materi untuk mereka yang membutuhkan uluran tangan kita, namun sumbangan non materi pun sangat besar pengaruhnya untuk dilatih kepada anak, misalnya sumbangan pemikiran dengan mengajar anak untuk memberikan ide-ide positif dalam situasi dan kondisi tertentu.
4.  HELPING (Menolong)
Membiasakan anak senang menolong akan berdampak pada terbentuknya sikap simpati dan empati terhadap apa yang dialami oleh orang lain. Dengan empati tersebut kecil kemungkinan anak akan melampiaskan perilaku agresifnya kepada orang lain ataupun benda-benda di sekitarnya.
5.  HONISTY (Kejujuran)
Jujur terhadap diri sendiri dan kepada orang lain. Maka peran ibu sebagai kiblat model sang anak sangat memberikan pengaruh yang cukup besar. Sejak kecil dekapan dan kasih sayang ibu telah melekat dalam diri anak, yang akan terekam dalam memori sepanjang hidupnya. Perilaku seorang ibu, (atau pun significant other lainnya) akan dijadikan anak sebagai teladan. Kejujuran yang ditunjukan dan dicontohkan oleh seorang ibu kepada anak serta memberikan pemahaman padanya, akan membekas seiring dengan tumbuh kembangnya.
6.  GENEROSITY (Kedermawanan)
Dalam hal ini konsep SHADAQAH (dalam arti luas) tepat untuk diajarkan kepada anak. Bagaimana mereka bersimpati dan berempati sejak dini terhadap sesama. Learning by doing yang diajarkan, misalnya membawanya ke masjid kemudian mengisi kotak amal, sembari mengajaknya berkeliling kemudian memberikan sedekah kepada orang yang layak menerimanya, melibatkan anak dalam membantu menyediakan ta’jilan berbuka puasa baik di dalam maupun luar rumah itu sudah merupakan bagian dari melatih kedermawanannya. Tentunya semua dibarengi dengan pemberian pemahaman pada anak untuk melakukan segala sesuatu dengan ikhlas atau suka rela.

Pada akhirnya, melatih perilaku prososial bagi anak sejak dini menurut saya bisa dijadikan sebagai salah satu upaya untuk mencegah perilaku agresif anak.
Mari kita renungkan bersama betapa Pola asuh dari orang tua sangat berpengaruh pada perilaku anak. Di tangan seseorang yang memahami, perilaku agresif bisa diarahkan menjadi perilaku sosial. Bahkan sejak dini perilaku agresif yang merugikan diri sendiri dan orang lain dapat dicegah.
Ayah, bunda, dan kita yang akan menjadi calon ayah bunda!!!
Anak adalah mutiara terindah anugrah dari-Nya...
Anak adalah bintang yang selalu dinantikan kilauannya..
Berikan yang tebaik agar tak sirna keindahannya dan tak redup kilauannya..
Kelak karena keindahannya dan kilauannya itu..
Senyum bangga ayah bunda akan slalu merekah..
Tak usang oleh waktu..
Walau raga telah berlalu..
DPL

 






[1] Istilah yang diperkenalkan oleh H S.Sullivan: individu yang sangat penting dan memiliki pengaruh besar bagi perasaan, pengembangan norma sosial, nilai dan citra diri.
[2] Sigit Muryono, Empati, Penalaran Moral dan Pola Asuh: Telaah Bimbingan dan Konseling (Yogyakarta: Gala Ilmu Semesta, 2009), hlm.34
[3] Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak “dengan judul asli Child Development” (Jakarta:Erlangga, 1997), hlm. 264
[4] Mulyadi, Diagnosis Kesulitan Belajar (Yogyakarta: Nuha Litera, 2010), hlm. 110
[5] Tim Pustaka Familia, Menyikapai Perilaku Afresif Anak (Yogyakarta: Kanisius, 2006), hlm.9
[6] Sigiti Muryono, Empati, Penalaran Moral dan Pola Asuh: Telaah Bimbingan dan Konseling, hlm.27

Tidak ada komentar:

Posting Komentar